PAGE

Rabu, 22 April 2015

Lawu Via Cemoro Sewu



MENGGAPAI HARGO DUMILAH
via cemoro sewu



Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous. Gunung Lawu adalah sumber inspirasi dari nama kereta api Argo Lawu, kereta api eksekutif yang melayani Solo Balapan-Gambir.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.
Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.
            Rute dari Semarang ke Lawu dapat di tempuh dengan berbagai jenis transportasi, dari menggunakan sepeda motor pribadi, angkutan umum seperti bus, sampai kereta api. Berikut Rutenya :
Dengan menggunakan Bus : dari Terminal Terboyo (bisa juga dari Sukun Banyumanik) naik bus jurusan Solo cukup membayar Rp. 20.000/orang turun di terminal Tirtonadi Solo – Lanjut naik bus jurusan Tawangmangu dengan membayar Rp. 10.000/orang – sampai Tawangmangu lanjut naik minibus(mobil chery) untuk sampek ke basecamp cemoro kandang / cemoro sewu dengan membayar Rp. 10.000/orang.

Dengan menggunakan Kereta : dari Stasiun Poncol Semarang dengan naik KA Kalijaga dengan tarif Rp.10.000 turun di stasiun Balapan Solo – sampai stasiun Balapan berjalan menuju terminal Tirtonadi dengan jarak kurang lebih 1 km – dari terminal Tirtonadi lanjut naik bus jurusan Tawangmangu dengan membayar Rp. 10.000/orang – sampai Tawangmangu lanjut naik minibus(mobil chery) untuk sampek ke basecamp cemoro kandang / cemoro sewu dengan membayar Rp. 10.000/orang.
Dari pilihan transportasi di atas kami memilih menggunakan bus. Pada hari Sabtu tepatnya tanggal 16 November 2014 kami kumpul di daerah Sukun Banyumanik. Meski kami tidak datang bersama-sama, kami berangkat terpisah. Total rombongan kita ber-5 termasuk saya. Rute yang kami lewati dari Sukun Banyumanik – Terminal Tirtonadi di tempuh kurang lebih 2 jam, dari Terminal Tirtonadi – Tawangmangu di tempuh kurang lebih 2 jam dan Tawangmangu – Base camp CemoroSewu di tempuh kurang lebih 1,5 jam.
Kami sampai Base camp Cemoro Sewu sekitar pukul setengah 5 sore. Sesampai disana kami istirahat sebentar, sholat dan tak lupa mengabadikan momen di 0 km JawaTimur. Setelah Istirahat dan sholat asar, kita langsung melakukan pendakian. Tiket masuk waktu itu Rp.10.000,- / orang. Cuaca saat kita sampai sudah berkabut dan ada tanda-tanda akan hujan, tapi hal itu tidak mungurungkan niat kami untuk menggapai Hargo Dumilah.
1.1  Foto tepat di 0 km Jawa Timur

1.2  foto keluarga dulu di depan gapura masuk
Benar saja baru beberapa langkah hujan turun cukup lebat, kami pun mulai memakai jas hujan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Meski hujan deras kami tetap melanjutkan perjalanan, setelah beberapa langkah kemudian suara adzan maghrib terdengar, kami menghentikan langkah dan berteduh di pondok kecil kiri jalan sebelum pos 1. Setelah adzan berhenti kamipun melanjutkan langkah kecil kami sembari di temani hujan. Selangkah demi selangkah, dari anak tangga yang tertata oleh batu ke anak tangga yang lain, kami melewatinya dengan perlahan. Akhirnya hujan mulai reda, namun suasana malam itu sunyi sepi tak nampak satu bintang di langit, suara-suara binatang penghuni hutan satu pun juga tak terdengar seperti biasanya, benar-benar sunyi malam ini. Sesampai pos 2 hujan kembali turun cukup deras, mata teman-teman saya nampak sayu dan mulai lelah, saya pun demikian hehe. Karena suasana malam itu benar-benar syahdu yang membuat kami ingin segera sampai dan ingin rasanya cepat-cepat mendirikan tenda dan tidur hooaaamm. Karena melihat kondisi semua anggota yang sudah pada ngantuk, kami semua memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3. Alhamduliah sesampai di pos 3 ini cuaca sudah mulai cerah, hujan sudah berhenti dan akhirnya bintang pun bermunculan. Masing-masing dari kami ada yang bertugas membuat minuman hangat, ada yang membuat mie instan dan yang lain mendirikan tenda. Dan setelah semua beres, saya mencicipi mie dan sedikit minuman hangat langsung bersiap masuk tenda untuk tidur. Dan sialnya saya saat membuka tas ternyata semua barang dan keperluan tidur seperti sb, kaos tangan, kaos kaki, dan celana trening saya basah kuyub kena hujan sewaktu perjalanan tadi, hadduuuuhh. Alhasil malam itu saya berjuang semalaman untuk bisa tidur dalam kondisi yang dingin dengan barang-barang yang basah tadi untuk tidak terkena hipotermia, huhhh. Benar-benar malam yang panjang buat saya, tapi alhamdulilahnya gag terjadi apa-apa dan akhirnya bisa nglewatin malam itu.
Malam yang panjang telah berlalu, tenaga yang terkuras karena hujan semalam pun seketika pulih kembali saat saya membuka tenda dan matahari pagi menyapa saya dengan semburat oranye nya. Ternyata teman” sudah pada bangun dari tadi, sebagian sudah siap untuk membuat sarapan pagi, sebagian lagi menyiapkan air mendidih untuk membuat kopi. Saya pun segera membantu memasak, disini saya bertugas untuk memasak nasi bersama mas agus dan teman yang lain mengerjakan tugas lain. Beberapa saat kemudian makananpun sudah siap, nasi sudah matang, sarden pun sudah di bumbui dan kopi pun sudah jadi. Saatnya Sarapan pagi dengan menu Nasi Sarden, dengan lahapnya kami menyantap menu pagi itu.
1.3 Pos 2 Watu Gedheg, di depan pos 2 terdapat area camping ground yg cukup luas

1.4 Pos 3 , tepat di atas pos ini kami mendirikan tenda semalam


1.5 Pos 4 

Setelah cukup sarapan kami pun memulai kembali melangkah untuk menggapai Hargo Dumilah (Puncak Lawu). Perlahan tapi pasti, kami neniti anak tangga yang terbuat dari batu dan tanah yang sudah tersusun rapi ini. Sambil berjalan kami menikmati pemandangan sekitar dan banyak juga melewati pendaki lain. Selain pendaki pun ternyata banyak warga sekitar bahkan dari luar kota yang datang ke lawu tapi bukan untuk mendaki atau menikmati alam lawu, mereka kebanyakan mberkah atau melakukan semacam ritual, seperti bertapa. Sudah tidak asing lagi bagi para pendaki tentang kehadiran warga” ini. Karena di Gunung Lawu ini masih banyak tempat yang di keramatkan untuk sembahayang atau sekedar bertapa.
Setelah berjam-jam dari melewati pos 4 hingga pos 5 dengan terengah engah kami sampai di sendang drajat. Pemandangan paling bagus yaitu saat tadi mulai dari pos 5 hingga sendang drajat. Kita di suguhi hamparan cantigi dan edelwis yang luas di kanan kiri kita.
1.6 Pos 5 , berfoto bersama pemilik salah satu warung di pos 5
(di pos 5 ini cukup luas dan datar sehingga cukup banyak yang mendirikan tenda di sini, dan di pos 5 ini juga terdapat 2 warung makan)

1.7 Pemandangan setelah pos 5

Karena musim kemarau sendang drajat tidak ada sumber air nya sama sekali alias kering. Kami langsung melanjutkan perjalanan, sampai lah kamai pada pertiga’an kalau ke kanan ke hargo dalem warung mbok yem, dan kalau ke kiri arah naik ke atas menuju puncak. Kami langsung menuju puncak. Dengan badan yang sempoyongan sambil membawa cerrier penuh akhirnya sampai juga kita ke puncak hargo dumilah. Disana sudah banyak para pendaki berfoto, istirahat, dan ada juga yang menulis kata” dalam secarik kertas hehe. Tak mau kalah dan ketinggalan kami pun mulai mengabadikan momen di puncak Lawu ini. Puncaknya berupa Tugu yang terbentuk dari batu cukup tinggi dengan bendera merah putih di atap tugunya. Di sekeliling dapat kita lihat pemandangan hargo dalem dan samudra awan. Sayang sekali kami melewatkan SunRise, kalau kata temen saya “Hujannya dapet, SunRise nya lewat, Capeknya banget tapi puasnya luar biasa”. Di puncak kami sedikit mengisi tenaga dengan makan roti yang telah kami bawa. Setelah cukup istirahat dan mengisi perut kami melanjutkan perjalanan turun. Kami berencana langsung menuju ke HargoDalem mampir ke warung MbokYem. 


1.8 Sampai Puncak dan bertemu dengan rombongan Kalbu Giri Solo



 1.9 Pada Istirahat Makan
 2.0 Menuju Warung MbokYem
Dari puncak untuk menuju MbokYem kita langsung turun melipir ke arah kiri, nanti kita akan menemukan seperti rumah klasik. Entah itu rumah siapa, namun rumah ini masih berdiri kokoh, rumah yang klasik terbuat dari kayu. Dari depan rumah ini kita bisa melihat pemandangan ynag luar biasa. Kalau beruntung kita bisa mendapatkan pemandangan white carpet atau sering disebut samudra awan. Dari puncak sampek ke warung MbokYem dibutuhkan waktu kurang lebih 25 menit saja. Setelah sampai di warung MbokYem sebagian teman langsung memesan makan dan minum di warung MbokYem. Namun kesempatan setelah sampai HargoDalem ini tidak saya sia-siakan hanya untuk memesan makan saja, saya dan anas mengeksplore lebih dengan mengunjungi pasarean Prabu Brawijaya, Rumah klasik lagi yang mengarah ke jalur cemoro kandang, dan di belakang pasarean Prabu Brawijaya ada rumah botol, rumah yang strukturnya terbuat dari botol-botol plastik.

2.1 Sampai di depan warung MbokYem

 
2.2 Suasana di dalam pasarean Prabu Brawijaya V

 
2.3 Perjalanan Turun 


 2.4 Bertemu dengan Anabel


 2.5 Pemandangan Samudra di atas awan

Setelah puas di HargoDalem kita langsung melanjutkan perjalanan turun untuk kembali ke Semarang. Langkah kaki sedikit kami percepat agar sampai bawah base camp tidak terlalu malem. Saat perjalanan turun kami bertemu dengan turis mancanegara 2 orang dari amrik, kebetulan sekali. Kita sedikit berbincang dan tidak lupa mengabadikan foto bersama hehe. Setelah sedikit ngobrol ngobrol sedikit ternyata turis mancanegara berdua itu seharusnya bersama orang indonesia namun salah satu dari orang indonesia terkena insiden sedikit agak kurang enak badan dan tidak melanjutkan perjalanan, namun turis mancanegara itu tetap melanjutkan perjalanan hanya berdua tanpa di dampingi orang indonesia. Do’a kami semoga sampai puncak dan turun lagi dengan selamat sis. Perjalanan turun pun kami lanjutkan kembali. Dan akhirnya kita sampai di bawah base caamp kurang lebih pukul 17.00. Masalah kembali datang kepada rombongan kami. Karena pada jam segini transportasi turun ke tawang mangu sudah jarang dan tidak ada yang melayani lagi. Kalau disini kita di tuntut untuk carter mobil dari cemoro sewu ke tawangmangu atau langsung ke terminal tirtonadi Solo. Nah masalahnya kami cuman ber-5, dan kalau carter mobil uang kita tidak sampai Semarang. Kami memutar otak, dan akhirnya mencari rombongan dari kelompok lain. Dan akhirnya alhamdulilah kita bertemu dengan rombongan anak-anak undip yang juga mau pulang ke Semarang. Langsung saja kita ikut rombongan mereka dengan tarif carter mobil Rp.350.000,00 untuk 14 orang. Sebenernya sih tawaran pertama cuman Rp.300.000,00 saja, namun karena mungkin si sopir nunggu kelama’an dia menaikan harga nya secara sepihak. Karena tidak ada mobil lain lagi yang turun terpaksa kita menggunakan jasa carter itu Rp.350.000,00 /14 orang sampai terminal Tirtonadi Solo. Setelah perjalanan hampir kurang lebih 2 jam dari base camp cemoro sewu – terminal Tirtonadi Solo. Kita lanjut naik bis Solo – Semarang dengan tarif Rp.15.000,00/orang. Sekian perjalanan saya dari Puncak HargoDumilah Lawu melalui jalur CemoroSewu.

#Lawu #CemoroSewu #HargoDumilah #Puncak #CatatanPerjalanan #Gunung


























Selasa, 21 April 2015

Mendaki Gunung Lawu Via Candi Cetho



GUNUNG LAWU
Via Candi Cetho


Gunung Lawu, gunung dengan ketinggian 3.265 mdpl terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagian jalur pendakian ada yang masih di bagian provinsi Jawa Tengah yaitu melalui Candi Cetho dan Cemoro Kandang namun yang di bagian provinsi Jawa Timur melalui Cemoro Sewu. Pada umumnya jalur pendakian Gunung Lawu melalui jalur cemoro kandang dan cemoro sewu namun akhir” ini sudah banyak pendaki yang mendaki Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho ini.
Nah pada catatan perjalanan kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya mendaki Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho. Perjalanan saya mulai dari rumah teman saya Candra yang bertempat tinggal di ungaran, tepatnya pada hari jum’at tanggal 03 April 2015. Saya cuman berdua berangkatnya, namun Candra sudah membuat janji dengan temannya dari Surabaya yaitu bang Soni Jap dan bang Jacko alias Joko Harianto. Teman saya membuat janji untuk bertemu langsung di base camp Candi Cetho.
Jalur CandiCetho dapat di tempuh dengan dua transportasi darat yaitu menggunakan kendara’an pribadi seperti motor/mobil atau dengan menggunakan transportasi umum seperti bus. Kalau menggunakan kendarak’an pribadi dari Semarang – Arah Solo – bisa lewat jalur alternatif lewat Bekonang atau lewat kota – Terminal Karang Pandan – lurus aja sampai ada gapura besar bertuliskan Kawasan Wisata Sukuh Cetho – masuk lurus aja arah kemuning – ikuti plang yang mengarah ke Candi Cetho – Setelah mau masuk akan di tarik biaya untuk kendara’an bermotor Rp.1000,00 – dan langsung masuk aja parkir di area paling atas.
Jika Menggunakan Transportasi Umum Seperti Bus dari Semarang – naik bus jurusan Solo – turun terminal Tirtonadi (tarif Semarang-Solo sekitar Rp.20.000) – naik bus arah Tawang mangu – turun di terminal KarangPandan (tarif Tirtonadi-Karangpandan sekitar Rp.10.000,00 sampai Rp.15.000,00) – dari terminal Karang Pandan naik bus kecil arah Kemuning (tarif Rp.5.000,00/orang) – turun di kemuning – naik ojek dari kemuning ke argo wisata CandiCetho (tarif 15.000-20.000/orang).
Saya memilih menggunakan kendara’an pribadi sepeda motor, berangkat dari Ungaran sekitar pukul 06.00 wib pagi. Perjalanan hingga kurang lebih 2 jam kami sampai Solo, karena sebelumnya tidak tau arah kami menggunakan GPS, dan aplikasi ini langsung menunjukan jalan pintas tercepat ke arah CandiCetho dengan melalui jalur alternatif lewat Bekonang. Dari Solo sampai lah kita di daerah Karang Pandan dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam.


1.1  foto di depan gapura masuk kawasan wisata Sukuh-Cetho daerah KarangPandan

Kami langsung masuk kawasan wisata Sukuh-Cetho ke arah Kemuning. Dari Karang Pandan ke kemuning waktu tempuh sekitar kurang lebih 50 menit. Dari kemuning langsung kita masuk ke arah Candi Cetho dengan waktu tempuh Kemuning ke Candi Cetho sekitar kurang lebih 30 menit. Sekitar pukul 10.30 wib kami sampai di Candi Cetho. Disini kami menunggu teman dari Surabaya, waktu itu cuaca masih cerah. Setelah menunggu hampir 2 jam akhirnya teman” dari Surabaya datang. Namun cuaca yang semula cerah berubah menjadi mendung petang, dan hujan lebat pun turun. Kami menunda perjalanan hingga hujan reda, sambil menunggu hujan reda bang son sama bang jack makan dulu karena perjalanan jauh dari Surabaya-CandiCetho. Sambil menunggu kedua teman saya makan, saya dan bang candra menikmati segelas kopi sambil memandangi hujan yang turun. Ternyata banyak pendaki lain juga yang memilih jalur CandiCetho, silih berganti para pendaki berdatangan. Sekian lama menunggu hujan akhirnya sedikit reda, kami pun tak menyianyiakan nya. Sekitar pukul 13.00 kami mulai perjalanan, tak lupa membayar retribusi masuk Rp.3000,00/orang. Pemandangan pertama kita disuguhi view Candi khas Bali CandiCetho.


Trek pertama masuk kawasan CandiCetho lalu melipir ke kiri ke arah Candi Kethek jalan lurus aja. Jalurnya berupa tanah, trek sedikit nanjak untuk sampai ke pos 1. Baru sebentar jalan kita diguyur rintik” hujan, namun perjalanan tetap kami lanjutkan. Sekitar satu setengah jam kita sampai ke pos1. Karena Hujan cukup lebat kami putuskan untuk berteduh di dalam pos1, ternyata sudah ada pendaki lain dari Solo. Kami langsung di persilahkan masuk dan bergabung untuk berteduh. Di sini keakraban sesama pendaki sangat terjalin, kami di tawari berbagai makanan dan di buatkan kopi. Saya dan rombongan sangat bertrimakasih untuk makanan dan kopinya. Karena tenaga sudah sedikit terkuras, kami membuka bekal lontong sate yang sudah di beli oleh bang son di bawah tadi. Kami giliran menawari bekal kami, tak banyak membuang waktu dengan lahapnya kami memakan bekal sate lontongnya hehe.




Setelah mengisi perut kami berinisiatif untuk melanjutkan perjalanan sampai pos 3 atau kalau bisa camp di pos 5. Namun hujan semakin lebat dan tak kunjung reda, kami mengurungkan niat dan menunda perjalanan sampai hujan reda. Sambil menunggu hujan kita ngobrol santae dan join kopi. Ternyata hujan yang kita tunggu tidak kunjung reda malah semakin lebat saja. Kita melihat jam, dan menunjukan pukul 17.30 hampir maghrib. Dan udara semakin dingin, cuaca pun semakin petang. Langsung kami berinisiatif untuk mendirikan tenda di depat pos1, karena kami melihat teman kami juga sudah kelelahan. Langsung saja kita segera mendirikan tenda dengan kapasitas 4 orang. Tak butuh waktu lama tendapun sudah berdiri, dengan badan sedikit agak basah kami masuk kedalam tenda dan mengganti pakain kita. Kami mulai menghangatkan diri dan kembali mengisi energi dengan cemilan yang dibawa bang son. Setelah sekitar pukul 18.30 hujan reda, dan pendaki dari Solo mengajak kita untuk melanjutkan perjalanan dan camp di pos 2. Namun kita menolak karena sudah posisi enak, dan melihat teman sudah kelelahan kami putuskan untuk bermalam di depan pos1 saja. Lalu pendaki dari Solo pun berpamitan dan melanjutkan perjalanannya sedngkan kami memutuskan untuk istirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari.




Suara berisik para pendaki yang juga lewat di jalur candi cetho pun mulai melewati tenda kami satu persatu. Suara lalu lalang pendaki membangunkan saya, saya pun mulai membuka tenda dan ternyata fajar sudah menyingsing. Pemandangan pagi dari luar tenda sangat lah bagus di kiri nampak pemandangan kota dan kiri nampak seperti air terjun karena hujan semalam. Di atas kami nampak banyak pohon cemara dengan sedikit disinari matahari pagi. Puas memandang suasana pagi di sekeliling tenda saya pun mulai memasak air panas untuk membuat minuman hangat, serta membuat puding buat sarapan pagi. Saat semua sudah mulai bangun air yang dimasak pun sudah matang, kami mulai menikmati teh serta jahe hangat. Mas son mulai mengeluarkan logistiknya, dia mengeluarkan bubur dalam kemasan untuk menambah tenaga katanya. Bubur yang dibawa mas son ternyata cukup praktis, cukup di panaskan dengan air hangat saja. Rasanya juga enak, ada toping dangin nya di dalam. Selesai sarapan kita langsung packing tenda dan peralatan lain, semua peralatan kita bawa naik. Kita mulai lanjut perjalanan sekitar pukul 07.30 wib. Trek masih agak landai menuju pos 2 nya. Dari pos1 ke Pos2 membutuhkan waktu kurang lebih 1 ½ jam (satu setengah jam). 


Akhirnya setelah berjalan selama 1 ½ jam kita sampai di pos2. Pos2 di sekelilingnya agak lebar bisa di buat mendirikan beberapa tenda. Dan di dalam pos2 sendiri tempatnya sangat datar dan tertutup, bisa di buat berlindung dan tidur. Di pos2 kami bertemu lagi dengan pendaki dari Solo. Ternyata mereka mendirikan tenda di sekitar pos2. Setelah sampai di pos2 kita istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan menuju pos3. Jarak tempuh antar pos2 sampai pos3 sama seperti pos sebelumnya kurang lebih 1 ½ - 2 jam’an. Namun trek dari pos 2 ke pos3 sudah mulai nanjak terus sehingga trek kelihatan lebih panjang dan lebih lama. Jalurnya cukup rapat, vegetasinya lebat jalur nya hampir ketutup dengan vegetasi. Namun jangan hawatir sudah banyak plang penunjuk jalan menuju puncak. Namun sedikit saran saat jalan lebih baik pada pagi hari agar jalurnya lebih kelihatan dan resikonya sedikit dibanding ngetrek pada malam hari.






Setelah sekitar kurang lebih 1 ½  jam kita sampai di pos3. Pos3 agak lebih kecil dari pos” sebelumnya namun atapnya masih bagus dan rapat, area datar nya di luar pos3 juga kecil. Tidak bisa mendirikan banyak tenda di sini. Di sini kami bertemu dengan rombongan anak UIN Jogja 3 orang, 2 cowok dan 1 cewek. Dari pos3 kami lanjut menuju pos berikutnya. Sebelumnya rombongan kami di beri kurma oleh anak” UIN, eh kita yang meminta dan mereka memberikan kurmanya hehe. Makasih loh kurmanya, enakk sekali.
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan, dari pos3 menuju pos4 butuh waktu kurang lebih 1 ½ jam dengan trek naik terus serta vegetasinya lebat. Namun karena teman-teman sudah mulai lapar lagi di pertengahan pos3 ke pos4 kami memasak mie dulu buat mengisi tenaga. Kami berhenti di tempat yang datar agar bisa memasak dan istirahat dengan leluasa. Kami memasak 5 mie instan, serta membuat teh dan susu coklat untuk 4 orang.


1.9 Istirahat sebentar buat mengisi tenaga (antara pos3 ke pos4)


2.0 Pos4 (pos nya agak kecil serta sudah mulai rusak atapnya)

Setelah cukup mengisi tenaga, dan beristirahat sebentar, kita melanjutkan perjalanan kembali. Karena tenaga sudah terisi kami pun berjalan agak lebih cepat. Setelah beberapa menit kami sampai di pos4. Di pos4 lagi” kita berhenti dulu buat istirahat. Lalu perjalnan di lanjutkan lagi menuju pos5 bulak peperangan. Trek menuju pos5 masih sama nanjak terus namun ada bonus trek datar nya. View setelah pos4 pun bagus, kita melewati banyak pohon cemara. Jalan datar di kanan kiri pohon cemara, sangat bagus sekali viewnya sayang sekali saya tidak mengabadikannya. Setelah trek datar, belok ke kiri trek menanjak. Tanjakannya cukup tinggi namun sebentar kita sudah sampai di sabana pertama.
Sampailah kita di sabana pertama, di sana ternyata sudah banyak para pendaki. Kami pun bertemu dengan teman yang tadi berasal dari Madiun, teman yang jumpa pertama di base camp candi cetho serta bertemu anak” UIN lagi. Banyak para pendaki beristirhat sambil mengabadikan gambar di sabana pertama ini. Saling bercengkrama, ngobrol santai sambil memandangi pemandangan sabana pertama. Viewnya berjejer banyak pohon cemara mengelilingi sabana. Kami pun tak lupa mengabadikan momen” indah ini. Kami kembali membuka logistik kami, kami kembali membuat bubur ayam praktis dari bang son. Satu kemasan bubur buat ber-empat hehe.


2.1 Foto keluarga dulu (bang jack, bang can, saya, bang son dari kiri ke kanan)


Setelah puas berfoto, puas menikmati sabana pertama dan setelah sedikit mengisi perut kita melanjutkan perjalnan. Dari sini trek sudah datar dan full sabana, tak selang kurang lebih 20-30 menit dari sabana pertama sampailah kita ke pos5 bulak peperangan. Sabananya lebih luas dari sabana yang pertama, viewnya lebih bagus. Dan saat saya bandingkan dengan foto teman saya yang di semeru, sabananya ini mirip sekali dengan foto teman saya yang di semeru hehe luar biasa. Cuaca nya sangat cerah jadi mendukung sekali, alhamdulilah saya bisa menyaksikan view sebagus ini. Konon di sini tempat bertempurnya prabu brawijaya v sehingga di namakan bulak peperangan.
Banyak para pendaki beristirahat dan memasak di pos5 bulak peperangan ini. Namun disini logistik kami sudah habis, yang tersisa cuman susu coklat. Melihat para pendaki mengisi perut hmm jadi kepingin, namun tak sampai hati saya meminta. Kami pun hanya membuat susu coklat hangat dan langsung melanjutkan perjalanan. Sedikit masukan saat mendaki gunung lawu via candi cetho sebaiknya siapkan logistik atau makanan sebanyak banyaknya agar tidak seperti kami kehabisan logistik saat baru sampai di pos5 hehe.
Dari pos5 trek masih datar namun setelah beberapa langkah ada sedikit tanjakan mirip tanjakan cintanya semeru. Namun tanjakannya lebih pendek dari tanjakan cintanya semeru. Setelah tanjakan akan ada sabana lagi, sabana yang sangat luas lebih luas dari sabana yang sebelumnya.Dan karena kita datang saat musim hujan di depan kami ada seperti sendang (genangan air) dua buah dan di tengah”nya jalur menuju puncak. Sendang airnya bersih dan sangat jernih, benar-benar beruntung sekali kami. Kami langsung membasahi muka merasakan segarnya air ini. Seperti kolam di tengah” padang savana.


2.3 Pos5 Bulak Peperangan







Trek setelah pos5 bulak peperangan tadi kita melewati trek sabana yang luas ber liku-liku. Dari Pos5 sampai Hargo Dalem atau warung mbokYem dapat di tempuh dengan waktu kurang lebih 2 jam. Di depan kita akan melewati sendang kidang, disini dapat di buat tempat camp area, karena areanya datar dan di lincungi oleh pohon” cemara yang tumbuh di sekitar area sendang kidang. Saat di tengah perjalanan, teman-teman mulai kelaparan dan kehabisan tenaga. Kami memutuskan untuk berhenti sebentar. Karena lapar dan logistik yang tersisa cuman gula pasir sama promag satu tablet. Terpaksa kita join promag dan gula pasirnya hehe miris tapi kebersama’annya itu yang sampai saat ini saya ingat dan saya rindukan.
Setelah sendang kidang 30 menit akan sampai di sendang macan, di sendang macan ada sumber airnya yang dapat kita gunakan untuk menambah perbekalan air kita. Setelah dari sendang macan trek agak nanjak sebentar lalu mulai datar lagi dan sampailah kita di pasar dieng. Di area pasar dieng treknya nya semua batu dan jalanannya agak membingungkan di sini. Butuh waktu kurang lebih 30 menit dari sendang macan sampai ke pasar dieng. Nama pos nya agak sedikit nyeremin, pasar dieng yang artinya dalam bahasa jawa yaitu pasar setan. Namun di pasar dieng ini saya dan teman-teman bertemu pendaki yang baik hati rombongan dari jakarta yang memberi kita biskuitnya serta coki-coki coklat. Makasih gaes, jasamu tak akan saya lupakan hehe.
Dari pasar dieng sampai HargoDalem sangatlah dekat, cukup membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit sampai di warung MbokYem. Setelah habis area pasar dieng kita lewati mulailah trek rerumputan dan stelah beberapa langkah sampailah kita di rumah botol. Yah rumah kecil yang semua bahannya terbuat dari botol, makanya dinamakan rumah botol. Rumah botol ini yang menghubungkan antara trek candi cetho ke HargoDalem. Langsung tak menyianyiakan waktu karena sudah dari tadi kita semua menahan lapar, kita langsung menuju warung MbokYem untuk mengisi perut kita yang sudah sedari tadi meronta-ronta hehe. Kita segera memesan nasi pecel 4 porsi dan minum teh hangat khas Lawu. Tak butuh waktu lama makanan yang kita pesan telah tiba dan kita langsung melahapnya, udah kayak orang yang gak makan seminggu aja hehe.



2.9 Pasar Dieng (area di sekitar sini berupa trek tanah dan banyak bebatuannya)

Saat kita tiba di warung MbokYem waktu menunjukan pukul 16.30 wib. Saat itu warung masih lah lenggang belum banyak pendaki yang datang. Setelah kita selesai mengisi perut, hari sudah mulai gelap dan biasanya kalau sudah malam para pendaki akan semakin banyak yang berdatangan. Kami mengambil inisiatif untuk mendirikan tenda di area hargo dalem, kita langsung mendirikan tenda. Setelah beberapa saat tendapun sudah berdiri dan kami mulai beristirahat. Tak lama setelah tenda kita berdiri, para pendaki pun mulai ramai berdatangan di Hargo dalem. Untunglah kita sudah  mendapat tempat camp yang nyaman sesuai keinginan kita. Malam itu bulannya sangatlah terang, indah sekali. Ternyata malam dihari kita nge camp ini sedan terjadi bulan purnama, sungguh sangatlah beruntung kita bisa menyaksikannya. Namun kita tidak bisa berlama-lama di luar tenda karena suhu udara di luar tenda sangat lah dingin ditambah dengan angin malam yang cukup kencang menambah udaranya semakin dingin saja. Malam hari kita habiskan dengan ngobrol, bercanda dan tertawa bersama sambil menikmati secangkir kopi hangat. Tak terasa malam pun semakin larut, acara kita lanjutkan untuk beristirahat.
Malam pun telah berlalu, di luar tenda sudah ramai suara para pendaki. Ternyata sudah ramai sekali berjejer para pendaki menikmati sun rise. Kami pun tak mau melewatkan sun rise nya, kami cukup menikmatinya dari deket tenda kita karena disini kita sudah bisa menikmati sun rise nya. Cuaca yang cerah ini mendukung banget, jadi kita bisa melihat proses terbitnya matahari secara jelas.

catatanperjalananyanuararifw.blogspot.com
3.0 Sun Rise dari deket tenda kita


3.1 Tempat kita mendirikan tenda

Setelah kita menyasikan proses terbitnya matahari kita mampir ke warung mbok yem dulu buat srapan. Di warung sambil makan kita ngobrol santai dan bercanda dengan mbok yem dan karyawannya yang merupakan keluarganya sendiri. Suasana hangat tercipta di dalam warung, keramahan mbok yem dan keluarga, candaannya membuat pagi ini penuh ceria. Setelah selesai sarapan kita langsung packing dan membereskan tenda untuk turun.
Karena teman kami ada kegiatan esok harinya, dan kalau kita turun lewat candi cetho lagi waktunya tidak keburu. Kemudian kita putuskan buat turun lewat CemoroSewu yang notabene trek nya lebih pendek sehingga teman kami bisa sampai rumah lebih cepat dan bisa melanjutkan kegiatannya esok hari. Packing selesai dan kita langsung melanjutkan perjalanan turun. Buat catatan dan masukan untuk kawan-kawan semua, tolong banget di jaga kebersihan nya bila teman-teman semua ingin melintasi jalur candi cetho ini. Jangan sampai jalur candi cetho ini berakhir seperti jalur cemoro sewu dan cemoro kandang ya gays. Apa yang kalian bawa saat datang, harus kalian bawa juga saat pulang ya trimakasih. Sekian catatan perjalanan saya di gunung lawu via candi cetho ini.


catatanperjalananyanuararifw.blogspot.com

3.2 Saat perjalanan turun kita disuguhi oleh pemandangan samudra awan :D 

#CatatanPerjalanan #GunungLawu #Lawu #ViaCandiCetho #CandiCetho #EksploreIndonesia #LetsgoAdventure